Senin, 20 Maret 2017

Ceritaku Mengenai Ujian Nasional Berbasis Komputer di Sekolah

Semasa saya sekolah dari SD-SMA memang di sekolah yang sangat baik dalam bidang teknologi karena sekolah tempat saya menempuh pendidikan merupakan salah satu sekolah swasta yang berada di Jakarta. Penggunaan teknologi yang sangat maju hingga pada usia SD pun kami sudah diberikan Mata Pelajaran Komputer untuk mengasah kemampuan kami dalam bidang teknologi. Pada saat pembelajaran pun, satu siswa mendapat satu komputer yang dapat digunakan saat pembelajaran berlangsung. Tidak hanya di SD, hal itu saya alami juga saat duduk di bangku SMP dan SMA. Tidak hanya fasilitas komputer saja, tetapi sekolah juga menyediakan WIFI yang dapat digunakan siswanya untuk mengerjakan tugas atau sekedar mencari informasi. Dengan kondisi seperti itu dapat dikatakan bahwa sekolah saya dulu sudah sangat baik dalam bidang teknologinya.

Akhir-akhir ini memang banya dibicarakan mengenai pergantian model ujian nasional yang awalnya menggunakan kertas menjadi berbasis komputer. Saat saya ujian sekitar tahun 2015, memang masih mengunakan pensil dan kertas karena belum ramai diperbincangkan mengenai penggunaan komputer. Namun tahun berikutnya tepat pada angkatan  satu tahun di bawah saya, mereka sudah menggunakan komputer saat pelaksanaan ujian nasional. Saya pribadi tidak begitu paham apasaja kendala yang mereka rasakan ataupun pihak sekolah rasakan. Tetapi menurut saya pribadi memang pastinya ada kelebihan dan kelemahan atau kendala-kendala yang terjadi saat persiapan ataupun pelaksanaan karena baru pelaksanaan pertama. 

Menurut saya, pihak sekolah mungkin kesulitan mempersiapkan komputer yang baik dengan koneksi yang baik supaya ujian tetap berjalan dengan lancar. Hal tersebut terjadi karena, sebelumnya belum ada pengalaman ujian dengan menggunakan kompeter. Kendala yang mungkin tiba-tiba terjadi saat pelaksanaan seperti tidak stabilnya listrik dan koneksi internet. Kendala seperti itu mungkin saja terjadi walaupun sudah kita persiapkan dengan baik. 

Saat pelaksanaan, menurut saya pribadi memang lebih efektif menggunakan komputer karena siswa tidak perlu melingkari jawaban menggunakan pensil yang sebenarnya bisa memakan waktu cukup lama dan terkadang menghilangkan konsentrasi karena kelelahan. Terkadang saya sendiri merasa takut apakah saya sudah mengarsir dengan baik dan bisa dibaca oleh komputer saat diperiksa nantinya. Hal tersebut membuat pikiran saya terbagi menjadi dua antara harus menjawab soal dengan baik dan harus mengarsir dengan baik juga. 

Ujian nasional berbasis komputer memang memiliki banyak kelebihan, tetepi tentu pasti banyak pihak yang keberatan karena tidak semua sekolah mampu mengikuti kebijakan tersebut. Tidak hanya kendala fasilitas tetapi juga koneksi internet dan listrik yang kadang tidak stabil membuat berbagai pihak takut jika banyak kendala saat pelaksanaan dan akhirnya akan memecah konsentrasi siswanya saat mengerjakan ujian. Menurut saya sendiri penggunaan komputer dalam pelaksanaan ujian memang sangat baik tetapi tetap harus memperhatikan pihak lainnya.

Luas dan Keliling Bangun Datar

Hallo teman-teman semua, calon guru, dan bapak ibu guru semuanya. Di sini aku mau membantu kalian lhoo... dengan membuat sebuah mindmap rumus bangun datar. Sederhana memang, tetapi aku berharap bisa membantu kalian semua supaya lebih mudah memahami rumus bangun datar yang ada. Selama ini, saya pribadi memang cukup kesulitan memahami rumus bangun datar dan saya juga melihat teman-teman sekolah dasar masih banyak yang tidak menguasai rumus bangun datar. Semoga dengan mindmap ini membantu teman-teman semua yaaa....
Oh iya, aku membuat mindmap ini dengan aplikasi edrawmap lho, aplikasi yang mudah digunakan dan kita dapat membuat sekreatif mungkin. Mungkin suatu saat kalian bisa mencoba menggunakan aplikasinya juga...

 

Minggu, 12 Maret 2017

Perbedaan Peta Pikiran dan Peta Konsep



Penggunaan peta konsep atau peta pikiran memang sudah pernah saya lakukan sejak sekolah dasar. Biasanya guru hanya meminta siswanya untuk membuat peta pikiran, tetapi terkadang siswa sendiri tidak mengetahui bagaimana cara yang tepat dalam pembuatan peta pikiran. Jujur saya pribadi memang dulu tidak mengerti jika ternyata terdapat perbedaan antara peta pikiran dan peta konsep. Saya hanya mengikuti perintah guru untuk membuat sebuah peta konsep tanpa mengerti cara yang paling tepat dalam pembuatan peta konsep.
            Selain itu, pembuatan peta konsep awalnya hanya dibuat secara manual dalam arti menggunakan selembar kertas dan bullpen saja. Sementara sekarang dengan adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat. Pembuatan peta konsep ternyata juga dapat menggunakan sebuah aplikasi pada komputer ataupun laptop. Penggunaan aplikasi tersebut tentunya memfasilitasi orang-orang yang sering melakukan presentasi di depan banyak orang. Salah satunya adalah guru. Dengan penggunaan aplikasi tersebut, guru tidak lagi hanya menggunakan word atau powerpoint saja saat menyajikan materi pelajaran, namun juga dapat menggunakan peta konsep yang dapat ditampilkan menggunakan layar LCD.
            Sekarang akan dijelaskan apa perbedaan peta konsep dan peta pikiran menurut saya pribadi. Menurut saya peta konsep lebih kepada pemetaan konsep yang akan disajikan. Jadi, pada pembuatannya lebih banyak tulisan dibandingken dengan gambar dan pada pembuatannya setiap konsep pasti saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya berdasarkan judul besar pada peta konsep tersebut. Sementara untuk mindmap atau peta pikiran sendiri lebih kepada penyajian gambar-gambar atau visual. Jadi perbedaan antar keduanya terletak pada isi penyajian. Jika peta konsep lebih kepada tulisan, sementara mindmap adalah gambar-gambar.

Senin, 06 Maret 2017

Materi Energi Alternatif IPA SD

Hallo teman-teman, hasil perkuliahan kali ini saya mendapat pengetahuan baru menganai penggunaan hyperling pada powerpoint lhoo.. Kali ini, saya mau berbagi kepada teman-teman semua mengenai penggunaan hyperling yang ada di powerpoint ini. Selain itu, saya juga berbagi materi mengenai Energi Alternatif yaaa.. Semoga berguna untuk teman-teman semuaaa..

Menurutku Mengenai Pendidikan di Indonesia


Setelah hampir 2 tahun saya menjalani perkuliahan dijurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) dan menjalani praktek langsung di beberapa sekolah dasar di Yogyakarta, saya melihat berbagai perpedaan atau perubahan cara guru mengajar pada beberapa sekolah. Posisi guru yang dulunya menjadi pusat pada kegiatan belajar mengajar, sekarang berubah menjadi vasilitator. Guru menjadi pusat dalam artian saat proses pembelajaran guru jauh lebih aktif daripada siswanya. Siswa hanya menerima semua materi dari guru. Alasan mengapa guru jauh lebih aktif karena guru lebih banyak ceramah untuk menyampaikan materi, sementara siswa cenderung diminta diam, mendengarkan, dan mencatat semua materi yang diberikan oleh guru. Hal tersebut memang sebelumnya pernah saya rasakan saat di sekolah dasar. Saya pribadi cenderung lebih mudah bosan saat guru menjelaskan semua materi di depan kelas. Terkadang hal tersebut memang tidak disadari oleh guru saat mengajar, karena mereka pun bisa saja dituntut pihak sekolah untuk menjapai tujuan tertentu yang membuat guru lebih memilih cara mengajar yang sudah saya jelaskan di atas.

Semakin berkembangnya zaman, banyak perubahan yang terjadi pada dunia pendidikan terutama pada abad 21 ini. Pendidikan semakin dituntut untuk lebih maju mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Perkembangan teknologi tersebut membuat semua informasi lebih mudah diakses baik oleh guru maupun siswa. Kemudahan tersebut tentu juga membuat siswa lebih kritis karena mungkin saja mereka sudah mengetahui suatu informasi dan pada saat pembelajaran yang sesuai, siswa tersebut menanyakan berbagai macam alasan mengenai informasi yang dia tahu sebelumnya. Semakin kritis siswa juga harus diimbangi guru yang kritis pula. Sekarang ini guru juga dituntut untuk lebih modern dan memiliki pengetahuan yang lebih luas dari pada siswannya, dengan begitu harus juga diikuti dengan perubahan proses pembelajaran di kelas. Tidak lagi guru sebagai pemberi materi tetapi sebagai vasilitator saat kegiatan belajar berlangsung.

Kemajuan dan perubahan tersebut memang harus diimbangi dengan perubahan cara mengajar guru di kelas. Teknologi yang sudah sangat maju harus digunakan dengan baik bagi proses pembelajaran. Siswa dituntut untuk lebih aktif saat di kelas, bisa saat diskusi atau mencari informasi yang sedang menjadi bahan pembelajaran di kelas. Sementara guru lebih kepada membimbing siswanya saat belajar, menjawab saat siswa memiliki pertanyaa, dan membernarkan ketika ada informasi yang keliru. Hal tersebut mungkin terlihat sulit dilakukan, apalagi sekarang ini sistem pembelajaran yang lebih condong kepada guru sudah sangat tertanam pada pendidikan di Indonesia.

Saya sebagai calon guru, lebih menyarankan kepada semua guru dan calon guru lainnya untuk merubah bagaimana cara mengajar di kelas. Jangan sia-siakan perkembangan yang ada di Indonesia, anak didik nantinya pasti akan lebih terbuka mengenai berbagai informasi jadi tentunya sudah tidak sesuai lagi jika kita hanya menggunakan ceramah di depan kelas. Merubah hal yang sudah tertanam memang sangat sulit, lebih lagi jika posisi kita ada pada minoritas. Pasti akan banyak tantangan jika kita hanya berjalan sendiri mengikuti perubahan yang ada. Tantangan yang ada seperti tuntutan pihak sekolah untuk mencapai tujuan tertentu memang membuat guru sulit bergerak bebas untuk merubah cara mengajar mereka. Namun sebenarnya jika kita berani melakukan perubahan perlahan-lahan dan menghasilkan sesuatu yang baik, pasti orang lain juga akan melirik dan mengukuti perubahan yang kita lakukan. Menurut saya pribadi, jangan buat anak didik tertekan dengan cara mengajar kita yang masih belum bisa mengikuti perkembangan zaman. Abad 21 adalah abad yang sangat terbuka dengan segala informasi yang ada artinya kita juga harus membebaskan anak didik kita untuk mengetahui hal tersebut. Posisikanlah kita calon guru ataupun guru sebagai vasilitator dan jadilah guru yang "luwes" terhadap perkembangan yang ada. Anak didik bukan lagi penerima materi tetapi pencari informasi saat proses pembelajaran dan guru hanya sebagai vasilitator yang baik untuk anak didiknya.