Hallo teman-teman,
Perkembanagan teknologi yang sangat pesat ternyata memang menuntut guru bahkan siswanya untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Guru lebih dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas dan mulai sadar bahwa posisi mereka sekarang ini lebih menjadi fasilitator. Menjadi fasilitator yang baik untuk siswanya tidak hanya menyediakan bahan pelajaran berupa kertas-kertas yang dibagikan kepada siswa kemudian meminta siswa untuk memperlajari dan mengerjakan soal yang ada. Guru lebih dituntut untuk menyajikan materi secara kreatif dengan mengunakan teknologi yang ada, lebih lagi guru sekolah dasar yang siswanya masih pada tahap pemahaman secara konkrit dan memiliki tingkat konsentrasi yang rendah. Guru harus menggunakan berbagai macam cara untuk membuat siswanya aktif, tertarik, dan mudah konsentrasi saat pelajaran berlangsung.
Sekarang ini, di kelas ICT aku sedang mempelajari tentang digital storytelling. Menurutku pribadi, penggunaan digital storytelling pada proses pembelajaran tidak hanya memudahkan guru saja tetapi juga siswa di kelas. Guru bisa membuat materi ajar yang akan disampaikan menjadi sangat menarik dengan tambahan gambar-gambar dan suara yang dapat dibuat sendiri. Siswa tidak lagi mendengarkan ceramah guru di depan kelas tetapi dapat memahami materi secara konkrit. Siswa sendiri menjadi lebih menahan konsentrasi mereka daripada dengan cara yang lainnya karena siswa sekolah dasar sendiri lebih tertarik dengan hal-hal yang konkrit.
Penggunaan digital storytelling tidak hanya untuk guru saja, tetapi guru juga bisa meminta siswanya untuk menyajikan hasil kerjanya menggunakan digital storytelling ini. Penggunaan digital storytelling mungkin bisa diterapkan pada siswa kelas atas. Menggunakan digital storytelling akan meminimalisir siswa yang tidak menyukai jika diminta untuk menulis panjang di atas kertas. Banyak siswa usia sekolah dasar lebih senang membicarakan secara langsung, mereka lebih senang bercerita karena tidak dibatasi dengan aturan-aturan menulis yang ada. Mereka bisa lebih bebas menyampaikan apa yang mereka dapatkan dari hasil pembelajaran.
Salah satu contoh yang akan aku buat adalah menyampaikan sebuah cerita bergambar yang akan aku isi dengan suara. Aku tidak akan menuliskan cerita pada gambar tersebut karena menurutku akan membuat pembaca bosan saat melihat ceritanya. Penggunaan suara saat menceritakan secara langsung akan lebih menarik perhatian siswa dan tidak membuat bosan karena saat membacakan kita sebagai guru bisa membuat berbagai macam perbedaan suara sehingga tidak menimbulkan kebosanan. Hal ini juga dapat digunakan untuk membantu siswa yang belum tertarik membaca cerita karena malas jika harus membaca tulisan yang panjang. Aku sendiri akan membuat digital storytelling menggunakan Windows Movie Maker. Kalian dapat menggunakan aplikasi lain sesuai dengan keinginan kalian.
